Diriwayatkan dari Al-‘Irbadh bin Sariyah ra. bahwa ia berkata, “Suatu hari Rasulullah pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan airmata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalianadalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafar Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”
Tidak disangsikan lagi mentaati pemimpin merupakan wujud pelaksanaan perintah Allah yang ada dalam firman-Nya yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa’ : 59)
TAKHRIJ SINGKAT HADITS
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 7/126-127, Imam Abu Dawud no. 4607 dan ini lafazhnya, Imam At-Tirmidzi no. 2676, dan Imam Ibnu Majah no.42. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.937 dan 2735 dan dalam Irwa-ul Ghalil 8/107-109, no. 2455
PENJELASAN HADITS
Hadits yang mulia ini berisi nasehat yang sangat penting bagi kebhagiaan kita di dunia dan akhirat, sebab berisi nasehat taqwa yang menjadi kunci sukses dalam menempuh kehidupan akhirat. Disamping itu juga berisi nasehat taat dan patuh kepada pemimpin yang menjadi kunci kesuksesan kehidupan dunia. Ini dibatasi dengan sabda Rasulullah,
“Tidak boleh taat terhadap perintah yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan.”
Inilah salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang harus diperhatikan seorang Muslim, sehingga wajib taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat, meskipun mereka berbuat dzhalim. Karena mentaati merekatermasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada Allah adalah wajib.
Rasulullah bersabda,
“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasa pada hal yang ia cintai atau ia benci, kecuali kalau ia disuruh untuk berbuat maksiat, jika ia disuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”
Kedzhaliman mereka hendaknya diatasi dengan usaha rakyat untuk meninggalkan kedzhaliman. Adapun jalan yang ditempuh agar para penguasa selamat dari kedzhaliman adalah dengan berikut :
Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah
Hendaknya mereka memperbaiki aqidah mereka
Hendaknya mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendri.” (Ar-Ra’d/13 : 11)
(Insya Allah bersambung dengan kiat menghadapi perselisihan).
Adalah sebuah kesejukan tersendiri merenungi sabda Rasulullah,
“ Bertaqwalah engkau, di manapun engkau berada. Setiap kali engkau berbuat keburukan, iringilah dengan kebajikan, niscaya kebajikan itu akan menghapus dosa keburukan itu. Lalu, bergaulah dengan umat manusia dengan akhlaq yang baik.” 1
Karena ternyata hadits ini memberikan sinyal peringatan yang sedemikian dini, terhadap cikal bakal penyebaran maksiat yang melebihi berjangkitnya virus, menelusuri bermilyar-milyar kilometer panjangnya pembuluh darah kaum Muslimin.2
Sehingga nyaris tidak ada napas hidup tanpa desah maksiat. Betapa nyaman hati kita, begitu kita menyadari bahwa sebenarnya jauh-jauh hari Allah telah mengingatkan kita, melalui lisan Nabi-Nya tersebut.
MAKSIAT, HADIR DI MANAPUN
Hadits itu sudah mengingatkan kita, bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. Ketaqwaan secara definitif maknanya adalah membuka selebar mungkin peluang berbuat taat dan menutup sesempit mungkin peluang berbuat maksiat. Dan itu harus dilakukan kapanpun dan di manapun. Beristirahat dari upaya itu adalah jalan menuju keterpurukan.
Hadits itu mengajarkan, betapa berondongan kemaksiatan nyaris tak mengenal kata jeda. Di masa sekarang ini, teguran hadits itu menjadi amat terasa maknanya. Saat dosa dan maksiat dijual sebegitu murahnya. Saat pentas maksiat yang dahulu milik the have kini sudah dapat dinikmati rakyat jelata. Saat maksiat yang dahulu dinikmati diam-diam oleh kaum dewasa kini dapat disergap oleh anak-anak yang masih buta segalanya. Mengenaskan.
Memelihara ketaqwaan sebagai modal dasar menghadapi serbuan maksiat itu, tak ubahnya memupuk hati agar dapat menatap kehidupan dunia ini dengan pandangan akhirat. Sudut pandang itulah, yang memberi keistimewaan secara khusus pada diri Rasulullah.
Dari Abu Dzar ra diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya aku dapat melihat apa-apa yang tidak dapat kalian lihat, aku dapat mendengar apa-apa yang tidak dapat kalian dengar. Suatu saat langit akan runtuh, dan memang sudah menjadi haknya untuk runtuh. Setiap empat ruas jari dari lokasi langit, pasti akan ditempati oleh seorang malaikat yang tengah bersujud kepada Allah dengan meletakkan keningnya.
Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus dengan istri kalian di atas kasur, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat-tempat menyepi dan beribadah) untuk beribadah kepada Allah.”
Abu Dzar ra. berkomentar, “Aku sampai menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang. ” 3
GODAAN SYAHWATI FANA
Sayangnya, kebanyakan kita justru kurang mengindahkan peringatan itu. Tumpukkan aktivitas kita, sarat dengan pergulatan antara kehendak nafsu dengan dorongan iman. Kita bisa saja menjadi seorang pegawai yang taat, guru teladan, juru da’wah yang sukses, wanita karier yang berprestasi, mmpu bekerja sehari suntuk, sangat disiplin. Namun, betapa banyak kewajiban dalam hidup kita sebagai Muslim yang masih terabaikan. Lihat saja, anak-anak kita masih kurang terdidik secara baik. Lihat, istri-istri kita masih selalu sibuk mengumbar gossip. Juga lihat, shalat kita masih berantakan, shalat sunnah nyaris tidak pernah, puasa pun gelagapan, sedekah apalagi. Begitu perbekalan kita amat minim, dan begitu pula asal yang merintang di tengah belitan sekian aktivitas amatlah banyak, maka yang muncul adalah perseteruan yang tidak seimbang, antara nafsu dengan iman. Dominasi maksiat menjadi amat kental di alam kehidupan kita, sehingga dosa demi dosa, maksiat demi maksiat, membentuk koloni kebisingan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. ‘Mereka’ menjadi sangat berjaya. Dan tidak dapat dipungkiri (mereka) menjadi ada diman-mana. Dan bahkan di relung-relung kehidupan yang mereka tidak pernah ada sebelumnya.
Namun, Surga yang menjadi tujuan setiap orang beriman memang sangatlah berharga. Wajar, nila salah satu hikmah Allah di alam ciptaan-Nya ini adalah diciptakannya macam ragam kendala dibalik segala sesuatu yang berharga itu, sehingga hawa nafsu mungkin dapat merajalela, dan hanya orang yang berjuang hebat dan tabah saja yang dapat selamat dari bencananya.4
Dengan demikian, seyogyanya kita justru bersyukur karena Allah masih menguji kita dengan pelbagai bentuk cobaan yang tampak. Adanya kemaksiatan di arah manapun wajah kita menghadap, kemana punpandangan mata kita terhujam dan pada posisi apapun telinga kita mendengarkan, seperti di masa sekarang ini, justru seharusnya membuat kita lebih waspada. Karena bila tidak, kebinasaan sudah menanti kita.
Umar pernah mengatakan, “ Sebentar lagi negeri-negeri akan hancur, setelah sebelumnya makmur sentosa.”
Ada orang bertanya, “Bagaimana negeri-negeri itu bisa hancur padahal sebelumnya makmur?"
Beliau menjawab, “Karena orang-orang fasik dalam negeri-negeri itu sudah lebih dominant dibandingkan orang-orang shalihnya dank arena orang-orang munafik sudah mnguasai suku-suku mereka.” 5
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullahmengungkapkan,
“ Dapatkah kawula muda menjanjikan kepadaku ‘tuk meninggalkan kemaksiatan ? Yakni mengganti semuanya dengan janji keselamatan.
Segolongan orang taat kepada Allah, maka mereka pun merasa aman, sungguh mereka tak pernah gelisah akibat luka-luka kehidupan ...”
JANGAN BIARKAN MAKSIAT MENJAJAH
Fenomena akhir-akhir ini kian menggelisahkan. Kecanggihan teknologi membuat segala hal yang jauh diujung langit bisa kita bawa hingga ke pembaringan kita, menemani hingga mata terpejam. Sayangnya, semua itu berlaku nyaris tanpa batas. Sehingga yang tertampung dan bisa tersaji didepan mata setiap saat bukan saja tumpukan informasi penting, beragam ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat, namun juga tayangan, tontonan hingga demonstrasi dosa dan maksiat yang begitu mudah tersaji, sehingga nafsu syahwat pun termanjakan. Dapatkah dibayangkan bila do’a-do’a sebelum tidur dan dzikir pengantar malam sebagian generasi kita tergantikan dengan tontonan dan sajian maksiat tersebut? Saat kepasrahan kita kepada Allah melalui ungkapan kita,
“ Dengan nama-Mu, yaa Allah, aku hidup dan aku mati, ” tergantikan dengan desah nafsu dan bayangan-bayangan syahwat yang mengantar kita hingga ke pulau mimpi? Tidakkah itu menggelisahkan? Bila demikian, dimana lagi letak kepercayaan kita pada kematian? Saudara seiman, sudah saatnya kita untuk tidak lagi menjadi penonton dalam pesta kemaksiatan, dimanapun kita berada. Marilah menjadi penentu babak akhir dari seala perhelatan ini. Cobalah kita menjadi pembangun dari kerumunan orang-orang shalih yang hidup dilingkungan orang-orang thalih. Karena kita tetap bisa menjadi santri dalam tugas apapun yang kita emban. Kita bisa menjadi santri di perkantoran, santri di pusat perbelanjaan, santri ditengah keramaian, santri dalam keluarga, ditengah masyarakat dan di pusat-pusat pemerintahan. Karena mesin maksiat boleh saja menderu sedemikian kencangnya, nyaris tanpa henti mencetak jenis-jenis maksiat baru yang kian hari kian memesona nafsu hewani, tapi kehidupan kita toh pasti akan berakhir juga. Kematian tetap datang kapan takdir ditetapkan. Bahkan seringkali tanpa kita sadari.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Al-Hadid : 16)
(Al Ustadz Abu Umar Basyir)
Endnote:
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (V:500), oleh Al-Haitsami dalam Majma’u Zawaid (I : 60), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam ‘I-Kabir (IV : 126). Diriwayatkan oleh Ahmad (II : 203)
Konon, panjang pembuluh darah seorang manusia dewasa adalah 400.000 kilometer
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya hasan
Afatul ‘Ilmi oleh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hal. 2
“ Suatu hari nanti …… Ketika anda Mendengar seseorang dalam Kesusahan dan Mengira itu bukan Urusan anda ….. PIKIRKANLAH SEKALI LAGI ! “
Sepasang suami dan isteri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar ?”.
Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah perangkap tikus. Sang tikus naik panik bukan kepalang. Ia bergegas lari ke sarang dan berteriak,
” Ada perangkap tikus di rumah….di rumah. Sekarang ada perangkap tikus….”
Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak,
” Ada perangkap tikus !”
Sang Ayam berkata,
” Tuan Tikus ! Aku turut bersedih tapi ia tak ada hubungannya dengan aku.”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti tadi. Sang Kambing pun menjawab,
“Aku pun turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku perbuat Lagi pula tidak ada hubunganya dengan aku. “
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali. Hewan sebesar aku tak kan bisa masuk perangkap tikus. “
Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular berkata
” Eleh engkau ini…Perangkap Tikus yang sekecil itu takkan bisa membahayakan aku.”
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah karena mengetahui ia akan menghadapi bahaya seorang diri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap tikusnya berbunyi menandakan umpan dah mengena.
Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik rumah. Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, isterinya tidak sempat diselamatkan. Si suami pun membawa isterinya ke rumah sakit.
Beberapa hari kemudian isterinya sudah boleh pulang namun tetap saja demam. Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana percaya sup cakar ayam bisa mengurangi demam. Tanpa fikir panjang si Suami pun dengan segera menyembelih ayamnya untuk membuat sup cakar ayam.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Banyak sungguh orang datang melawat jenazahnya. Karena rasa sayang suami pada isterinya, tak sampai hati pula dia melihat orang ramai tak dijamu apa-apa. Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang berziarah.
Dari kejauhan…
Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a yang artinya: “Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh mendhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini, beliau (Rasulullah) menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (Hadis Arba’in : 25)
Saudaraku ….sesungguhnya Ukhuwah (persaudaraan ) dalam Islam dibangun di atas landasan iman, bukan berdasarkan pertalian darah, suku, hubungan kekerabatan, apalagi nasionalisme kebangsaan yang semu.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat : 10 )
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “ ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dibangun di atas landasan persamaan agama bukan nasab ( hubungan darah)”, karena itu dapat dikatakan bahwa persaudaraan berdasarkan agama lebih kokoh dan tsabit (tetap) dibanding persaudaraan yang dibangun di atas landasan nasab atau hubungan darah, karena sesungguhnya persaudaraan karena nasab akan terputus dengan sendirinya karena perbedaan agama, sementara persaudaraan karena agama tidak terputus dengan terputusnya nasab.
Sementara itu Rasulullah SAW bersabda, artinya: ”Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, muslim itu saudara bagi muslim yang lain. ( H.R. Bukhari-Muslim )
Jelaslah sekarang bahwa setiap muslim pada asalnya adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh karena itu hak-hak ukhuwah diantara mereka harus dijaga dengan baik agar tidak menimbulkan kesalah fahaman yang dapat menumbuhkan benih-benih perpecahan yang sekaligus melemahkan barisan perjuangan kaum muslimin.
Pendapat pribadi seorang gadis remaja barat, mengapa ia menolak ‘keajaiban’ mode dan berkeinginan menutup tubuhnya dengan hijab (cadar).
Saya mungkin tidaklah cocok dengan tipe ‘pemberontak’. Saya tidak mempunyai tato, tidak ada bekas tindikan di tubuh saya. Saya tidak memiliki jaket kulit. Bahkan, kebanyakan ketika orang melihat saya, pikiran mereka biasa menganggap saya termasuk perempuan yang tertindas. Orang-orang yang berani mengajukan pertanyaan, biasanya memiliki pertanyaan: “Apakah orang tuamu yang menyuruhmu berpakaian seperti ini?” atau “Tidakkah kamu menilai ini benar-benar tidak adil?”
Beberapa waktu yang lalu, beberapa gadis di Montreal dikeluarkan dari sekolah karena berpakaian seperti saya. Sepertinya sangat aneh, sepotong kain dapat menjadi begitu kontroversi. Mungkin takut saya menyembunyikan senapan Uzi di bawahnya! Tentu saja masalahnya tidaklah hanya sekedar sepotong kain. Saya seorang muslimah, sama seperti muslimah lainnya di seluruh dunia yang memilih untuk berhijab. Konsep hijab, berbeda dengan pendapat lainnya, sebenarnya adalah salah satu aspek kekuatan bagi wanita. Ketika saya menutup tubuh saya, hal itu akan menutup kemungkinan orang lain menilai saya berdasarkan pakaian saya. Saya tidak dapat dinilai karena karena daya tarik saya atau kekurangan saya. Bandingkan dengan kehidupan saat ini: kami selalu saling menilai berdasarkan pakaian, perhiasan, rambut, dan makeup. Apa yang ingin dicapai dengan keadaan seperti ini?
Tapi tubuh merupakan wadah dari pikiran cerdas dan jiwa yang kuat. Bukan untuk dipertontonkan untuk menggoda orang lain dan untuk kebutuhan iklan yang menjual semuanya mulai dari bir hingga mobil.
Ya, saya memiliki tubuh sebagai manifestasi fisik di bumi ini. Tapi tubuh merupakan wadah dari pikiran cerdas dan jiwa yang kuat. Bukan untuk dipertontonkan untuk menggoda orang lain dan untuk kebutuhan iklan yang menjual semuanya mulai dari bir hingga mobil. Karena kedangkalan dunia tempat kita hidup sekarang ini, penampilan luar sangat ditekankan sehingga penilaian terhadap diri sendiri hampir tidak ada. Ini adalah mitos bahwa wanita di masa ini telah dibebaskan. Kebebasan bagaimana yang didapat ketika wanita tidak bisa berjalan-jalan tanpa adanya penilaian di setiap bagian dari fisiknya? Ketika saya menggunakan jilbab, saya terlepas dari itu semua. Saya merasa tenang dan yakin bahwa tak ada yang melihat saya dan melakukan penilaian karakter atas rok panjang yang sedang saya pakai. Ada penghalang antara saya dan orang-orang yang ingin mengeksploitasi saya.
Pertama saya dan manusia pada umumnya, satu dari kenyataan tersedih dalam hidup kita adalah pertanyaan tentang konsep kecantikan dan pencitraan wanita. Membaca majalah remaja populer, maka kalian akan langsung dapat mengetahui bagaimana bentuk tubuh yang ‘cantik’ dan ‘buruk’. Ketika kalian menemukan bahwa bentuk tubuh yang kalian miliki termasuk yang ‘jelek’, maka kalian akan berkeinginan untuk mengubahnya bukan? Bagaimanapun, tak mungkin seseorang yang bertubuh gemuk dikatakan cantik. Lihatlah pada iklan. Apakah ada wanita yang digunakan untuk menjual produknya? Berapa umurnya? Semenarik apa dirinya? Apa yang dikenakannya? Seringnya mereka berusia sekitar 20 tahunan, tinggi, langsing, lebih menarik dari rata-rata, dan menggunakan pakaian minim. Mengapa kita membiarkan diri kita dimanipulasi seperti itu? Percaya atau tidak, wanita 90an telah dipaksa pada satu cetakan. Dia telah dipaksa untuk menjual dirinya dengan mengorbankan dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa kita menemukan seorang gadis 13 tahun menempelkan jarinya di kerongkongannya lalu memuntahkan makanannya dan remaja yang mengalami kegemukan menggantung dirinya.
Saya menikmati kenyataan bahwa saya tidak mengijinkan orang lain melihat saya dan saya telah terbebas dari perbudakan industri mode dan lembaga lain yang mengeksploitasi wanita.
Ketika orang bertanya apakah aku merasa tertindas, jujur saya katakan tidak. Saya memutuskan ini secara bebas. Saya suka bahwa sayalah yang memegang kendali atas cara pandang orang terhadap saya. Saya menikmati kenyataan bahwa saya tidak mengijinkan orang lain melihat saya dan saya telah terbebas dari perbudakan industri mode dan lembaga lain yang mengeksploitasi wanita. Tubuhku adalah kepunyaanku. Tak ada yang dapat memaksa bagaiamana saya harus berpenampilan atau mengatakan saya tidak cantik. Saya tau bahwa ada yang lebih baik di diri saya dibandingkan itu. Saya juga mampu untuk mengatakan ketidaknyamanan ketika orang-orang bertanya apakah kehidupan seksualitas saya seolah-olah tertekan. Saya telah mengendalikan seksualitas saya. Saya merasa sangat bersyukur tidak pernah merasakan derita menurunkan / menaikkan berat badan atau berusaha mencari lipstik yang warnanya sesuai dengan warna kulit. Saya telah menentukan pilihan tentang prioritas saya dan tidak ada yang seperti itu.
Jadi, jika suatu saat bertemu saya, jangan menatapku penuh rasa simpati. Saya tidak di bawah paksaan dan saya bukanlah tawanan wanita dari laki-laki Arab padang pasir. Saya telah dibebaskan!
Oleh Sultana Yusufali (gadis 17-an), diterbitkan Toronto Star Young People’s Press
Dialah wanita shalihah itu, yang hidup bersama sang suami dalam naungan kerajaan Fir’aun. Suaminya adalah orang dekat Fir’aun, sedang ia sendiri adalah pembantu dan pengasuh puteri-puteri Fir’aun.
Allah Ta’ala mengaruniakan keimanan kepada keduanya. Sang suami tidak sabar memberitahukan keimanannya kepada Fir’aun sehingga Fir’aun pun membunuhnya.
Sang istri tetap bekerja di rumah Fir’aun sebagai penyisir rambut puteri-puteri Fir’aun. Ia menafkahi kelima anaknya dan memberi mereka makan sebagaimana (kasih sayang) induk burung memberi makan anak-anaknya.
Suatu hari…, ketika ia menyisir rambut seorang puteri Fir’aun, terjatuhlah sisir dari genggamannya.
“Bismillaah,” ucapnya.
“Allah? Kenapa tidak ayahku?” sergah sang puteri Fir’aun.
“Tidak, tetapi Allah! Rabb-ku, Rabb-mu, dan Rabb ayahmu,” jawab sang penyisir kepada puteri Fir’aun.
Namun, sang puteri tidak terima apabila selain ayahnya disembah. Dan segera ia kabarkan hal itu kepada sang ayah.
Fir’aun merasa heran ada orang di dalam istananya yang menyembah selainnya.
Fir’aun pun memanggil sang penyisir rambut.
“Siapa Rabb-mu?” tanyanya.
“Rabb-ku dan rabb-mu adalah Allah,” jawabnya.
Diapun menyuruhnya untuk segera murtad dari agamanya. Diapun mengurung dan memukuli sang penyisir tetapi usahanya itu tak juga membuatnya murtad. Fir’aun minta disediakan panci dari tembaga yang dipenuhi minyak lalu dibakar hingga mendidih.
Wanita tersebut diberdirikan di hadapan panci tadi. Melihat siksaan itu, ia malah yakin bahwa dirinya hanyalah sebuah jiwa yang ketika keluar, ia pun akan degera menjumpai Allah Ta’ala. Fir’aun tahu, insan terkasih wanita itu adalah kelima buah hatinya, anak-anak yatim yang ia perjuangkan dan ia nafkahi. Dia hendak menambah siksaannya dengan menghadirkan kelima anaknya yang masih belia.
Mata mereka tampak kebingungan, mereka tidak tahu hendak digiring kemana… Ketika melihat sang ibu, mereka langsung mendekap erat sambil menangis. Sang ibu tundukkan badan, memeluk, mencium, dan mengecup mereka sambil menangis tersedu. Ia raih yang terkecil di antara mereka, Ia dekap ke dadanya dan ia susui.
Melihat pemandangan ini, Fir’aun memerintahkan tentaranya untuk mengambil anak sulungnya. Para tentara itu segera menyeret untuk menceburkannya ke dalam minyak yang sedang mendidih. Sang anak memanggil-manggil ibunya. Ia meminta tolong sambil memelas di hadapan para tentara dan mengiba kepada Fir’aun. Ia terus meronta, berusaha melepaskan dan melarikan diri.
Ia memanggil-manggil adik-adiknya, ia pukuli para tentara dengan kedua tangan mungilnya. Para tentara pun melempar dan mendorongnya. Sang ibu hanya bisa memandang dan melepas kepergiannya.
Tak lama berselang, anak kecil itu pun dilempar ke dalam minyak. Sang ibu hanya bisa menangis sambil memandanginya, sedangkan saudara-saudaranya menutup mata mereka dengan tangan-tangan mungil mereka. Hingga, tatkala daging tubuh bagian atasnya yang ringkih meleleh dan tulang belulangnya yang putih mengambang di atas minyak, Fir’aun memalingkan pandangannya kepada sang ibu dan menyuruhnya kufur kepada Allah. Namun, sang ibu menolak…
Fir’aun pun murka, ia menyuruh untuk mengambil anak keduanya. Ia ditarik paksa dari sisi sang ibu. Ia meraung-raung meminta tolong. Hanya beberapa saat, iapun dilempar ke dalam minyak. Lagi-lagi, sang ibu hanya bisa memandanginya. Hinga tulang-belulangnya yang putih mengapung dan bercampur dengan tulang saudaranya. Sang ibu tetap tegar dalam agamanya. Ia yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya.
Fir’aun kembali menyuruh untuk mengambil anak ketiga. Ia langsung diseret dan didekatkan ke panci yang tengah mendidih itu. Ia segera diangkat dan diceburkan ke dalam minyak tadi. Ia pun mengalami nasib yang sama dengan kedua kakaknya.
Tetapi sang ibu tetap kokoh dalam agamanya.
Fir’aun kembali menyuruh untuk melempar anak keempat ke dalam minyak. Para tentara segera mendatanginya. Ia masih kecil. Ia bergelayut di baju ibunya. Ketika para tentara menariknya, ia menjerit sambil memegangi kedua kaki ibunya. Air matanya membasahi kedua kaki sang ibu, sedangkan sang ibu berusaha menggendongnya bersama adiknya.
Ia berusaha melepas kepergiannya, mencium, dan mengecupnya sebelum berpisah. Para tentara itu pun memisahkan keduanya. Mereka raih kedua tangan mungil itu lalu menyeretnya, sementara ia terus dan terus menangis meminta tolong. Ia merajuk dengan kata-kata yang belum dapat dimengerti. Akan tetapi, mereka tidak juga mengasihinya.
Beberapa saat kemudian ia pun ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih. Jasadnya lenyap dan suaranya hilang, lalu sang ibu mencium aroma daging. Tulang-belulangnya yang kecil nan putih naik ke permukaan minyak yang menyemburkannya. Sang ibu memandangi tulang-belulang itu. Sang anak telah meninggalkannya ke negeri lain. Ia hanya bisa menangis, tercacah oleh perpisahan dengan si buah hati.
Teringatlah, betapa ia dahulu mendekapnya ke dada dan menyusukan ke putingnya. Dan seringkali ia terjaga di malam hari ketika si buah hati terjaga dari tidurnya dan menangis karena tangisannya. Entah berapa malam yang telah ia habiskan di pangkuan sang ibu sambil memain-mainkan rambutnya. Entah berapa kali sang ibu harus ambilkan mainan-mainannya dan ia kenakan pakaiannya.
Namun, ia paksakan dirinya untuk tetap tegar dan terus bertahan.
Para tentara itu memandangi dan segera mendatanginya. Mereka renggut anak kelima yang masih menyusu itu dari kedua tangannya, padahal ia sedang mengulum puting ibunya…
Terlepas dari ibunya, si kecilpun menjerit dan menangislah wanita malang itu. Tatkala Allah Ta’ala melihat penghinaan terhadapnya, juga kesedihan dan kehilangan akan sang anak, Dia membuat si bayi yang masih dalam buaian itu berbicara.
“Wahai Ibu,” sapanya.
“Bersabarlah karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”
Suara itu tak terdengar lagi olehnya. Si bungsu segera dibenamkan ke dalam panci bersama saudara-saudaranya yang lain.
Sang bayi ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih ketika mulutnya masih menyisakan susu… di tangannya tersangkut sehelai rambut sang ibu… dan di bajunya tersisa air mata sang bunda.
Kelima anaknya pun pergilah sudah… Di sana, tulang-belulang mereka berkilapan dari dalam panci. Gumpalan-gumpalan daging mereka tersembur bersama minyak. Dan wanita malang itu hanya mampu melihat… oada tulang-belulang kecil itu…
Tulang-tulang siapa? Mereka adalah anak-anaknya yang sudah memenuhi rumahnya dengan tawa dan bahagia… mereka adalah permata hatinya… belahan jiwanya… yang ketika berpisah dengan mereka seakan hatinya tercabut dari rongga dadanya.
Sering mereka berlarian dan berhamburan ke hadapannya… Lalu sang ibu mendekap erat mereka di dadanya. Ia kenakan baju mereka dengan tangannya. Ia usap linangan air mata mereka dengan jemarinya… Tetapi sekarang… inilah mereka yang dirampas dari hadapannya, mereka dibunuh di depan kedua matanya. Mereka tinggalkan ia sendiri… mereka pergi darinya. Dan sebentar lagi ia akan bersama mereka.
Bisa saja ia menyelamatkan mereka dari siksa ini dengan kalimat kufur yang ia perdengarkan kepada Fir’aun. Namun ia sadar, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.
Kemudian, tatkala tidak ada lagi yang tersisi selain dirinya, para tentara pun segera mendatanginya bagai anjing-anjing buas. Mereka mendorongnya ke depan panci. Ketika mereka mengangkat tubuhnya dan hendak melemparnya ke dalam minyak, ia pandangi tulang-belulang anak-anaknya. Terbayang olehnya kebersamaan dengan mereka dalam kehidupan ini. Lalu ia palingkan pandangannya kepada Fir’aun.
“Aku minta kau kabulkan permintaanku,” ucapnya.
“Apa permintaanmu?” teriak Fir’aun.
“Kumpulkan tulangku dengan tulang anak-anakku dan kuburkan dalam satu kuburan,” pintanya.
Ia pejamkan matanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam panci. Jasadnya pun terpanggang dan tulang-belulangnya segera mengambang…
Subhanallaah, agung nian ketabahan sang wanita penyisir rambut ini… Betapa banyak pahalanya.
Pada malam Isra’, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat sebagian kenikmatan yang diraihnya. Maka beliau ceritakan hal itu kepada para Shahabat. Inilah penuturan beliau, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Baihaqi:
“Ketika aku di-Isra’-kan, terhembuslah kepadaku aroma yang harum semerbak. Akupun bertanya, ‘Aroma apa ini? Maka dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah penyisir rambut puteri Fir’aun dan anak-anaknya’.” [Pembahasa tentang derajat hadits dan kisah ini dapat dibaca di artikel berikut ini: Masyithoh Tukang Sisir Putri Fir’aun oleh Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf.]
Allahu akbar, ia berlelah-lelah sebentar tetapi kemudian banyak bersenang-senang.
Diketik ulang oleh shalihah.com dari buku Kemuliaan Muslimah Penggenggam Bara Api, DR. Muhammad bin ‘Abdirrahman al-’Uraifi, Media Tarbiyah