Diriwayatkan dari Al-‘Irbadh bin Sariyah ra. bahwa ia berkata, “Suatu hari Rasulullah pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan airmata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafar Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”
Tidak disangsikan lagi mentaati pemimpin merupakan wujud pelaksanaan perintah Allah yang ada dalam firman-Nya yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa’ : 59)
TAKHRIJ SINGKAT HADITS
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 7/126-127, Imam Abu Dawud no. 4607 dan ini lafazhnya, Imam At-Tirmidzi no. 2676, dan Imam Ibnu Majah no.42. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.937 dan 2735 dan dalam Irwa-ul Ghalil 8/107-109, no. 2455
PENJELASAN HADITS
Hadits yang mulia ini berisi nasehat yang sangat penting bagi kebhagiaan kita di dunia dan akhirat, sebab berisi nasehat taqwa yang menjadi kunci sukses dalam menempuh kehidupan akhirat. Disamping itu juga berisi nasehat taat dan patuh kepada pemimpin yang menjadi kunci kesuksesan kehidupan dunia. Ini dibatasi dengan sabda Rasulullah,
“Tidak boleh taat terhadap perintah yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan.”
Inilah salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang harus diperhatikan seorang Muslim, sehingga wajib taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat, meskipun mereka berbuat dzhalim. Karena mentaati mereka termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada Allah adalah wajib.
Rasulullah bersabda,
“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasa pada hal yang ia cintai atau ia benci, kecuali kalau ia disuruh untuk berbuat maksiat, jika ia disuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”
Kedzhaliman mereka hendaknya diatasi dengan usaha rakyat untuk meninggalkan kedzhaliman. Adapun jalan yang ditempuh agar para penguasa selamat dari kedzhaliman adalah dengan berikut :
- Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah
- Hendaknya mereka memperbaiki aqidah mereka
- Hendaknya mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendri.” (Ar-Ra’d/13 : 11)
(Insya Allah bersambung dengan kiat menghadapi perselisihan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar