Disini maksiat
Disana maksiat
“ Bertaqwalah engkau, di manapun engkau berada. Setiap kali engkau berbuat keburukan, iringilah dengan kebajikan, niscaya kebajikan itu akan menghapus dosa keburukan itu. Lalu, bergaulah dengan umat manusia dengan akhlaq yang baik.” 1
Karena ternyata hadits ini memberikan sinyal peringatan yang sedemikian dini, terhadap cikal bakal penyebaran maksiat yang melebihi berjangkitnya virus, menelusuri bermilyar-milyar kilometer panjangnya pembuluh darah kaum Muslimin.2
Sehingga nyaris tidak ada napas hidup tanpa desah maksiat. Betapa nyaman hati kita, begitu kita menyadari bahwa sebenarnya jauh-jauh hari Allah telah mengingatkan kita, melalui lisan Nabi-Nya tersebut.
MAKSIAT, HADIR DI MANAPUN
Hadits itu sudah mengingatkan kita, bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. Ketaqwaan secara definitif maknanya adalah membuka selebar mungkin peluang berbuat taat dan menutup sesempit mungkin peluang berbuat maksiat. Dan itu harus dilakukan kapanpun dan di manapun. Beristirahat dari upaya itu adalah jalan menuju keterpurukan.Hadits itu mengajarkan, betapa berondongan kemaksiatan nyaris tak mengenal kata jeda. Di masa sekarang ini, teguran hadits itu menjadi amat terasa maknanya. Saat dosa dan maksiat dijual sebegitu murahnya. Saat pentas maksiat yang dahulu milik the have kini sudah dapat dinikmati rakyat jelata. Saat maksiat yang dahulu dinikmati diam-diam oleh kaum dewasa kini dapat disergap oleh anak-anak yang masih buta segalanya. Mengenaskan.
Memelihara ketaqwaan sebagai modal dasar menghadapi serbuan maksiat itu, tak ubahnya memupuk hati agar dapat menatap kehidupan dunia ini dengan pandangan akhirat. Sudut pandang itulah, yang memberi keistimewaan secara khusus pada diri Rasulullah.
Dari Abu Dzar ra diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya aku dapat melihat apa-apa yang tidak dapat kalian lihat, aku dapat mendengar apa-apa yang tidak dapat kalian dengar. Suatu saat langit akan runtuh, dan memang sudah menjadi haknya untuk runtuh. Setiap empat ruas jari dari lokasi langit, pasti akan ditempati oleh seorang malaikat yang tengah bersujud kepada Allah dengan meletakkan keningnya.
Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus dengan istri kalian di atas kasur, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat-tempat menyepi dan beribadah) untuk beribadah kepada Allah.”
Abu Dzar ra. berkomentar, “Aku sampai menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang. ” 3
GODAAN SYAHWATI FANA
Sayangnya, kebanyakan kita justru kurang mengindahkan peringatan itu. Tumpukkan aktivitas kita, sarat dengan pergulatan antara kehendak nafsu dengan dorongan iman. Kita bisa saja menjadi seorang pegawai yang taat, guru teladan, juru da’wah yang sukses, wanita karier yang berprestasi, mmpu bekerja sehari suntuk, sangat disiplin. Namun, betapa banyak kewajiban dalam hidup kita sebagai Muslim yang masih terabaikan. Lihat saja, anak-anak kita masih kurang terdidik secara baik. Lihat, istri-istri kita masih selalu sibuk mengumbar gossip. Juga lihat, shalat kita masih berantakan, shalat sunnah nyaris tidak pernah, puasa pun gelagapan, sedekah apalagi.
Begitu perbekalan kita amat minim, dan begitu pula asal yang merintang di tengah belitan sekian aktivitas amatlah banyak, maka yang muncul adalah perseteruan yang tidak seimbang, antara nafsu dengan iman. Dominasi maksiat menjadi amat kental di alam kehidupan kita, sehingga dosa demi dosa, maksiat demi maksiat, membentuk koloni kebisingan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. ‘Mereka’ menjadi sangat berjaya. Dan tidak dapat dipungkiri (mereka) menjadi ada diman-mana. Dan bahkan di relung-relung kehidupan yang mereka tidak pernah ada sebelumnya.
Namun, Surga yang menjadi tujuan setiap orang beriman memang sangatlah berharga. Wajar, nila salah satu hikmah Allah di alam ciptaan-Nya ini adalah diciptakannya macam ragam kendala dibalik segala sesuatu yang berharga itu, sehingga hawa nafsu mungkin dapat merajalela, dan hanya orang yang berjuang hebat dan tabah saja yang dapat selamat dari bencananya.4
Dengan demikian, seyogyanya kita justru bersyukur karena Allah masih menguji kita dengan pelbagai bentuk cobaan yang tampak. Adanya kemaksiatan di arah manapun wajah kita menghadap, kemana pun pandangan mata kita terhujam dan pada posisi apapun telinga kita mendengarkan, seperti di masa sekarang ini, justru seharusnya membuat kita lebih waspada. Karena bila tidak, kebinasaan sudah menanti kita.
Umar pernah mengatakan, “ Sebentar lagi negeri-negeri akan hancur, setelah sebelumnya makmur sentosa.”
Ada orang bertanya, “Bagaimana negeri-negeri itu bisa hancur padahal sebelumnya makmur?"Beliau menjawab, “Karena orang-orang fasik dalam negeri-negeri itu sudah lebih dominant dibandingkan orang-orang shalihnya dank arena orang-orang munafik sudah mnguasai suku-suku mereka.” 5
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah mengungkapkan,
“ Dapatkah kawula muda menjanjikan kepadaku ‘tuk meninggalkan kemaksiatan ? Yakni mengganti semuanya dengan janji keselamatan.
Segolongan orang taat kepada Allah, maka mereka pun merasa aman, sungguh mereka tak pernah gelisah akibat luka-luka kehidupan ...”
JANGAN BIARKAN MAKSIAT MENJAJAH
Fenomena akhir-akhir ini kian menggelisahkan. Kecanggihan teknologi membuat segala hal yang jauh diujung langit bisa kita bawa hingga ke pembaringan kita, menemani hingga mata terpejam. Sayangnya, semua itu berlaku nyaris tanpa batas. Sehingga yang tertampung dan bisa tersaji didepan mata setiap saat bukan saja tumpukan informasi penting, beragam ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat, namun juga tayangan, tontonan hingga demonstrasi dosa dan maksiat yang begitu mudah tersaji, sehingga nafsu syahwat pun termanjakan. Dapatkah dibayangkan bila do’a-do’a sebelum tidur dan dzikir pengantar malam sebagian generasi kita tergantikan dengan tontonan dan sajian maksiat tersebut? Saat kepasrahan kita kepada Allah melalui ungkapan kita,
“ Dengan nama-Mu, yaa Allah, aku hidup dan aku mati, ” tergantikan dengan desah nafsu dan bayangan-bayangan syahwat yang mengantar kita hingga ke pulau mimpi? Tidakkah itu menggelisahkan? Bila demikian, dimana lagi letak kepercayaan kita pada kematian?Saudara seiman, sudah saatnya kita untuk tidak lagi menjadi penonton dalam pesta kemaksiatan, dimanapun kita berada. Marilah menjadi penentu babak akhir dari seala perhelatan ini. Cobalah kita menjadi pembangun dari kerumunan orang-orang shalih yang hidup dilingkungan orang-orang thalih.
Karena kita tetap bisa menjadi santri dalam tugas apapun yang kita emban. Kita bisa menjadi santri di perkantoran, santri di pusat perbelanjaan, santri ditengah keramaian, santri dalam keluarga, ditengah masyarakat dan di pusat-pusat pemerintahan. Karena mesin maksiat boleh saja menderu sedemikian kencangnya, nyaris tanpa henti mencetak jenis-jenis maksiat baru yang kian hari kian memesona nafsu hewani, tapi kehidupan kita toh pasti akan berakhir juga. Kematian tetap datang kapan takdir ditetapkan. Bahkan seringkali tanpa kita sadari.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Al-Hadid : 16)
(Al Ustadz Abu Umar Basyir)
Endnote:
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (V:500), oleh Al-Haitsami dalam Majma’u Zawaid (I : 60), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam ‘I-Kabir (IV : 126). Diriwayatkan oleh Ahmad (II : 203)
- Konon, panjang pembuluh darah seorang manusia dewasa adalah 400.000 kilometer
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya hasan
- Afatul ‘Ilmi oleh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hal. 2
- Al-Jawabul Kafi oleh Ibnul Qayyim hal. 53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar