Rabu, 20 April 2011

Sabra-Shatila…. 2


Dari beberapa blog, forum dan berita yang saya baca, inilah kisah tragis yang terjadi di Sabra Shatila yang terjadi pada bulan September tahun 1982, diambil dari sudut pandang seorang dokter relawan….

Beberapa pekan bertugas di Beirut, untuk menghentikan serangan membabi-buta yang dilakukan Israel, para pejuang Palestina akhirnya dievakuasi keluar dari Beirut diangkut dengan kapal-kapal laut di bawah kawalan Perancis dan Italia. PBB Mengirim sejumlah pasukan penjaga perdamaian. Sebab itu, Israel kemudian menghentikan serangannya, setidaknya untuk sementara waktu. Ini terjadi beberapa saat mendekati September 1982.

Di Beirut, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan membersihkan semua puing-puing dan jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata-mata mereka. Bukan itu saja, sesuai permintaan PBB, para ibu-ibu Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang tadinya disimpan di dalam rumah sebagai alat penjagaan diri kepada lembaga internasional.

“Harapan akan perdamaian terlihat di mata mereka. Para ibu-ibu Palestina menyerahkan semua senjata yang mereka miliki. Mereka mulai membersihkan jalan dan puing-puing rumahnya. Anak-anak kecil mulai bisa berlarian, bermain di jalan-jalan yang masih terlihat kotor oleh puing-puing yang disingkirkan ke pinggirnya. Mereka sangat yakin bahwa kehidupan akan pulih seperti sedia kala, ” ujar Dokter Ang.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Setelah jalan-jalan bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, beton-beton dan batu-batu yang tadinya sengaja dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, maka suatu malam, 14 September 1982, sebuah ledakan besar terdengar di seantero Lebanon. Calon Presiden Lebanon dari kalangan Kristen, Bashir Gemayel terbunuh.

Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi gelegar raungan pesawat-pesawat tempur Israel. Burung-burung besi itu secara royal menjatuhkan bom-bom yang kembali melantakkan Beirut.

Bumi tempat Dokter Ang Swee Chai berpijak dirasakan bergetar oleh deru ratusan tank Merkava milik Israel yang berkonvoi masuk Beirut dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank ini diikuti oleh tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, Milisi Falangis, yang terdiri dari orang-orang Kristen Lebanon bersenjata yang memang dekat dengan kaum Yahudi.

Kamp-kamp pengungsian yang waktu itu hanya dihuni oleh kaum wanita, jompo, dan anak-anak kecil serta bayi, karena para pejuang Palestina yang terdiri dari laki-laki muda telah pergi, kembali senyap. Mereka kembali masuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah hancur dan mengunci diri di dalamnya. Kepungan yang dilakukan tank-tank dan tentara Israel sangat rapat sehingga seekor kucing pun tak akan bisa meloloskan diri.

Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.

“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel,” tulis Dokter Ang.

Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien. Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.

Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter. Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah berhenti.

“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di kamp.

Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi Kristen Falangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp Sabra-Shatila.

Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama kalinya, aku menangis di sini.”

Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297 orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini.


Gaza, Layaknya Sabra dan Shatila Baru

Dua tenaga medis Norwegia yang kembali dari Jalur Gaza pada Senin 12 Januari lalu membandingkan serangan Israel sama halnya dengan pembantaian terhadap pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila pada 1982.

Liputan Kegiatan

Dua tenaga medis Norwegia yang kembali dari Jalur Gaza pada Senin 12 Januari lalu membandingkan serangan Israel sama halnya dengan pembantaian terhadap pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila pada 1982.

"Gaza di 2009 menjadi babak berdarah baru di sejarah Palestina dan Timur Tengah, sangat disayangkan, sangat mirip dengan Sabra dan Shatila," ujar Mads Gilbert pada saat konferensi pers di bandara Gardermoen, Oslo.

Meski jumlah korban akurat tak bisa diperoleh, pada September, tahun 1982, sekitar 2000 warga Palestina dibantai dalam kemah-kemah pengungsi Libanon oleh milisi Kristen dibawah pengawasan sekutu Israel.

Kejadiannya, milisi Kristen Libanon, Phalangist diijinkan memasuki dua kemah pengungsi Palestina--yang saat itu dibawah pengawasan militer Israel--dan membantai warga sipil selama tiga hari. Sama seperti pembantaian di konflik-konflik lain, pelaku kejahatan Sabra dan Shatila tidak pernah diadili.

"Kami harap tidak pernah melihat hal seperti ini lagi," ujar Gilbert yang bekerja di Libanon saat pembantaian Sabra dan Shatila 1982 terjadi.

Kini lebih dari 917 orang telah terbunuh sejak Israel meluncurkan mesin perangnya terhadap rakyat di Jalur Gaza pada 27 Desember lalu.

Jumlah korban sipil yang tinggi, dan mereka yang menderita di Jalur Gaza, sangat serupa dengan apa yang disaksikan Gilbert, 61 tahun beserta koleganya, Erik Fosse, 58 tahun pada 1982.

Dua dokter tersebut mengatakan sebanyak 90 % korban terluka yang dirawat di rumah sakit Al-Shifa adalah warga sipil. "Setiap orang ketiga yang terbunuh dan setiap orang yang terluka ialah anak-anak dibawah 18 tahun dan perempuan," ujar Gilbert.

"Pengeboman harus segera dihentikan, dan perbatasan harus dibuka sehingga rakyat sipil dapat menerima makanan, air, dan mencari penyelamatan," tegas Gilbert.

Penemuan Fakta

Sementara, Dewan Hak Asasi Manusia PBB tengah membentuk misi penemuan-fakta untuk meyelidiki dan membuktikan pelanggaran Israel terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.

Meski hasil voting yang dilakukan 12 Januari lalu berbeda-beda, lembaga itu dengan keras menuntut penghentian dan mengutuk serangan Israel. Inti pungutan suara menyatakan jika serangan Israel merupakan pelanggaran besar terhadap hak asasi warga Palestina.

Voting yang menugaskan 10 pakar PBB dalam hak asasi manusia dan Komisioner Tertinggi Hak Asasi PBB, Navanethem Pillay menghasilkan dua penyelidikan terpisah terhadap pelanggaran.

Lembaga tersebut juga membentuk badan independen penemuan-fakta internasional,untuk menginvestigasi pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional oleh Israel.

Sekretari Jendral PBB, Ban Ki-moon juga diminta untuk menginvestigasi pengeboman sekolah PBB di Jalur Gaza. 33 negara dari Afrika, Asia, Arab, dan Amerika latin menyatakan suara sepakat terhadap resolusi, sementara tiga belas lain, terutama dari negara-negara Eropa memilih abstain, dan hanya Kanada satu-satunya negara yang menolak.

Negara-negara barat mengatakan, teks yang diletakkan oleh negara-negara Afrika dan Arab tersebut terlalu bias dan gagal untuk berimbang menyorot peran serangan roket yang diluncurkan oleh Palestina sehingga memicu serangan.

Perwakilan Uni Eropa menyatakan EU dapat mendukung beberapa elemen dalam resolusi, namun menemukan teks dalam resolusi terlalu berpihak, terlepas dari fokus mereka terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Gaza.

Israel sendiri, sudah diduga, menolak bekerja sama dengan misi penemuan fakta, seperti yang telah dilakukan negara itu tahun-tahun sebelumnya. Bahkan pemerintah Israel bulan lalu telah menahan dan memulangkan kembali seorang pakar PBB, Richard Falk, pada saat mendarat di bandara Ben Gurion.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar